Dewitree's Blog

May 22, 2010

hepatitis

Filed under: Uncategorized — dewitree @ 6:54 am

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kehamilan merupakan hal fisiologis yang terjadi pada seoranmg wanita. Meskipun demikian, semua jenis kehamilan memiliki resiko terjadinya komplikasi pada masa persalinan atau bahkan masa kehamilan itu sendiri. Sebagian besar komplikasi tersebut terjadi selama proses kehamilan berlangsung. Namun tidak jarang pula komplikasi tersebut terjadi pada proses persalinan.

Meskipun demikian tidsak semua wanita hamil memiliki resiko dalam proses kehamilan. Salah satu contoh wanita yang beresiko selama kehamilan adalah wanita yang hamil kembar. Menurut Badan Perhitungan (Statistika) Angka Kehamilan Kembar tahun 2009 di Indonesia adalah 33 %.

B. Tujuan

  1. Agar Mahasiswa mengetahui Gemeli dan pengisian kompre ANC Gemeli
  2. Agar Masyarakat mengetahui tentang Penyakit Hepatitis

C. Manfaat

  1. Untuk meningkatkan Masyarakat mengetahui virus Hepatitis
  2. Untuk meningkatkan Masyarakat mengetahui tentang Penyakit Hepatitis

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Penyakit Hepatitis
  2. Pengertian

Istilah “Hepatitis” dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver).

    1. Macam-macam

Virus hepatitis dibagi dalam beberapa jenis, yaitu :

        1. Hepatitis A

Virus hepatitis A terutama menyebar melalui tinja. Penyebaran ini terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. Di negara-negara berkembang sering terjadi wabah yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan.

Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik.

Masa inkubasi 30 hari.Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi.

Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali.

Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.

        1. Hepatitis B

Penularannya tidak semudah virus hepatitis A. Virus hepatitis B ditularkan melalui darah atau produk darah. Penularan biasanya terjadi diantara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual).

Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan. Hepatitis B bisa ditularkan oleh orang sehat yang membawa virus hepatitis B. Di daerah Timur Jauh dan Afrika, beberapa kasus hepatitis B berkembang menjadi hepatitis menahun, sirosis dan kanker hati.

Gejala mirip hepatitis A, mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning dan muntah serta demam. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi, transfusi darah dan gigitan manusia. Pengobatan dengan interferon alfa-2b dan lamivudine, serta imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap hepatitis-B yang diberikan 14 hari setelah paparan.

Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang lalu. Yang merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika, orang yang mempunyai banyak pasangan seksual. Mengenai hepatitis C akan kita bahas pada kesempatan lain.

        1. Hepatitis C

Menyebabkan minimal 80% kasus hepatitis akibat transfusi darah. Virus hepatitis C ini paling sering ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum jelas, penderita “penyakit hati alkoholik” seringkali menderita hepatitis C.

        1. Hepatitis D

Hanya terjadi sebagai rekan-infeksi dari virus hepatitis B dan virus hepatitis D ini menyebabkan infeksi hepatitis B menjadi lebih berat. Yang memiliki risiko tinggi terhadap virus ini adalah pecandu obat.

Hepatitis D Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik, yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan melalui hubungan seksual, jarum suntik dan transfusi darah. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau amat progresif.

        1. Hepatitis E

Gejala mirip hepatitis A, demam pegel linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri (self-limited), keculai bila terjadi pada kehamilan, khususnya trimester ketiga, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feces. Virus hepatitis E kadang menyebabkan wabah yang menyerupai hepatitis A, yang hanya terjadi di negara-negara terbelakang.

        1. Hepatitis F

Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah.

        1. Hepatitis G

Gejala serupa hepatitis G, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik. Semoga pengetahuan ini bisa berguna bagi Anda dan dapat Anda teruskan kepada saudara ataupun teman Anda.

Hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut (hepatitis A). Dapat pula hepatitis kronik (hepatitis B,C) dan adapula yang kemudian menjadi kanker hati ( hepatitis B dan C ).

    1. Penyebab

Hepatitis penyebab tidak hanya virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, khloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis. Bahan-bahan kimia ini dapat dikonsumsi, terhirup atau diserap melalui kulit pasien. Menetralkan racun yang beredar di dalam darah merupakan pekerjaan utama jaringan hati. Jika banyak zat kimia beracun yang masuk ke tubuh, hati mungkin akan rusak sehingga tidak dapat menetralkan racun-racun lain.

    1. Gejala

Secara umum, gejala penyakit Hepatitis ringan. Gejalanya adalah dapat hilang nafsu makan, rasa tidak enak di perut, mual dan muntah-muntah, demam ringan, kadang-kadang disertai nyeri sendi dan bengkak di bagian kanan atas perut. Setelah satu Minggu akan muncul sebagai gejala utama putih pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak kuning dan air seni berwarna seperti teh.

    1. Diagnosa

Dibandingkan dengan virus AIDS (HIV), Hepatitis B virus (HBV) seratus kali lebih ganas (menular), dan sepuluh kali lebih banyak (sering) menularkan daripada jenis Hepatitis yang lain. Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata.

Hepatitis B adalah penyakit kronis nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Ditandai oleh kronis hepatitis B dengan HBsAg positif (> 6 bulan) dalam serum, tingginya tingkat HBV DNA dan selama proses kronis hati nekroinflamasi. HBsAg carrier inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi. Sedangkan Hepatitis B kronis eksaserbasi adalah keadaan klinis yang ditandai dengan peningkatan intermiten ALT> 10 kali di atas batas nilai normal (BANN). Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi. The serologi, pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi Hepatitis B kronis adalah: HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5). Virologi tes, dilakukan untuk mengukur jumlah HBV DNA serum sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat replikasi virus. Biokimiawi tes, penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Mencerminkan peningkatan tingkat ALT nekroinflamasi. Karena itu, tinjauan ini dianggap sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan tingkat ALT menunjukkan bahwa proses nekroinflamasi berat dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan ALT normal memiliki tingkat tanggapan serologi kurang baik pada terapi antivirus. Oleh karena itu pasien dengan tingkat ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi aktif. Sedangkan tujuan pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti-virus.

    1. Pengobatan

Hepatitis disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati rusak sehingga hati tidak dapat berfungsi dengan baik. Secara umum, sel hati dapat tumbuh kembali dengan sedikit sisa dari kerusakan, tapi tidak memakan banyak waktu hingga berbulan bulan dengan diet dan istirahat dengan baik.

Hepatitis B akut umumnya sembuh sendiri, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat terus menjadi sirosis hati atau kanker hati. Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang dapat meningkatkan kesempatan hidup untuk orang-orang pengidap penyakit ini. Perawatan yang tersedia dalam bentuk antivirus.

Selain itu, ada juga pengobatan tradisional yang dapat dilakukan. Tanaman obat atau herbal yang dapat digunakan untuk membantu mencegah dan perawatan ini mempunyai efek sebagai hepatoprotektor, yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang dapat merusak sel hati, juga anti-peradangan, kolagogum dan khloretik, yaitu untuk meningkatkan produksi empedu oleh hati. Penurunan titer HBsAg relatif lebih mudah, hasil negatif sangat sulit didapat tapi diupayakan dengan kombinasi obat, kedisiplinan minum obat dan kesabaran serta mengurangi aktifitas berat sangat membantu kesembuhan.

Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka pembersihan virus akan terjadi, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh yang intermediate (antara dua di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi kronis hepatitis.

        1. Calcium I + Cordyceps, cara pemakaian :
        • Pagi hari (1 jam setelah makan pagi) 2 kapsul Cordyceps
        • Siang hari (setelah makan siang) 1 sachet Calcium I + 2 kapsul Cordyceps (1 jam setelah minum Calcium I)
        • Sore/malam hari (setelah makan malam) 2 kapsul Cordyceps
        1. Calcium I + Cordyceps + Zinc (Jika komposisi Calcium I + Cordyceps saja belum cukup), Cara pemakaian :
        • Pagi hari (1 jam setelah makan pagi) 2 kapsul Cordyceps + 2 kapsul Zinc
        • Siang hari (setelah makan siang) 1 sachet Calcium I + 2 kapsul Cordyceps (1 jam setelah minum Calcium I) + 2 kapsul Zinc
        • sore/malam hari (setelah makan malam) 2 kapsul Cordyceps + 2 kapsul Zinc
        1. Cordyceps (paket hemat), Cara pemakaian 2 – 3 kapsul Cordyceps setiap habis makan
    1. Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan tepat jika kita mengetahui cara-cara penularan berbagai penyakit hepatitis. Beberapa cara pencegahan terhadap penyakit hepatitis:

      1. Imunisasi

Imunisasi sangat efektif mencegah infeksi suatu penyakit. Setelah imunisasi tubuh akan menghasilkan antibodi yang merupakan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut. Imunisasi hepatitis A diberikan pada anak-anak usia antara 2 hingga 18 tahun sebanyak satu kali. Orang dewasa membutuhkan imunisasi ulang (booster) setelah 6 hingga 12 bulan imunisasi pertama. Kekebalan yang didapat dari imunisasi ini dapat bertahan selama 15 hingga 20 tahun. Namun seseorang yang telah diimunisasi dapat terkena hepatitis A jika ia terinfeksi VBA antara waktu 2 hingga 4 minggu setelah imunisasi, karena pada saat itu tubuh belum menghasilkan antibodi dalam jumlah cukup.

Mereka yang sebaiknya mendapatkan imunisasi ini adalah:

  • Pekerja restoran atau yang biasa menangani makanan

  • Remaja yang tinggal di asrama pelajar yang mengalami kontak erat dengan teman-temannya.

  • Pekerja dan anak-anak pada tempat penitipan anak.

  • Orang yang menderita penyakit hati menahun

  • Pekerja laboratorium

      1. Imunitas sementara

Mereka yang sering bepergian ke daerah lain sebaiknya mendapatkan kekebalan sementara untuk mencegah infeksi VH terutama jika daerah tujuannya adalah daerah endemik hepatitis atau daerah yang sanitasinya buruk. Imunitas sementara dapat diperoleh dengan pemberian immunoglobulin (Ig). Ig untuk pencegahan hepatitis berisi antivirus hepatitis yang sangat efektif setelah 2 minggu pemberian. Untuk mereka yang harus menetap di daerah endemic, Ig anti VH sebaiknya diulang setiap 3 hingga 5 bulan.

      1. Menjaga kebersihan

Mencuci tangan dengan menggunakan sabun  setiap kali selesai buang air besar dan kecil sangat dianjurkan untuk menghambat penularan VH. Hal yang sama perlu dilakukan pula pada saat sebelum makan, mengolah dan menyiapkan makanan. Awasi dan berikan pngertian pada anak-anak agar tidak memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya.

      1. Tidak menggunakan barang orang lain

Barang-barang yang dapat menyebabakan luka dapat menjadi media penularan virus hepatitis. Barang-barang tersebuat antara lain pisau cukur, gunting kuku, sikat gigi, dan lain-lain.

      1. Melakukan hubungan seks sehat dan aman

Melakukan hubungan seks dengan bergonta ganti pasangan beresiko tinggi tertular hepatitis. Jika suami atau istri terinfeksi hepatitis maka sang suami wajib menggunakan kondom saat berhubungan seksual.

      1. Jika terinfeksi hepatitis jangan mendonorkan darah

Palang merah Indonesia akan melakukan serangkaian pemeriksaan pada darah yang di donorkan. Jika ternyata sejumlah darah pada bank darah terinfeksi virus hepatitis maka darah tersebut akan dimusnahkan.

Advertisements

pemeriksaan kehamilan

Filed under: Uncategorized — dewitree @ 6:49 am

Pemeriksaan kehamilan merupakan salah satu tahapan penting menuju kehamilan yang sehat. Boleh dikatakan pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para ibu hamil. Pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan melalui dokter kandungan atau bidan dengan minimal pemeriksaan 3 kali selama kehamilan yaitu pada usia kehamilan trimester pertama, trimester kedua dan pada kehamilan trimester ke tiga, itupun jika kehamilan normal. Namun ada baiknya pemeriksaan kehamilan dilakukan sebulan sekali hingga usia 6 bulan, sebulan dua kali pada usia 7 – 8 bulan dan seminggu sekali ketika usia kandungan menginjak 9 bulan.
Kenapa pemeriksaan kehamilan begitu penting yang wajib dilakukan oleh para ibu hamil? karena dalam pemeriksaan tersebut dilakukan monitoring secara menyeluruh baik mengenai kondisi ibu maupun janin yang sedang dikandungnya. Dengan pemeriksaan kehamilan kita dapat mengetahui perkembangan kehamilan, tingkat kesehatan kandungan, kondisi janin, dan bahkan  penyakit atau kelainan pada kandungan yang diharapkan dapat dilakukan penanganan secara dini.

Berikut diterangkan mengenai hal apa saja yang dilakukan dalam pemeriksaan kehamilan, sebagai bahan pengetahuan bagi para ibu hamil agar menuju kehamilan yang sehat dan keluarga yang berkualitas.

Pemeriksaan Berat Badan

Pemeriksaan berat badan dilakukan setiap kali ibu hamil memeriksakan kandungannya, hal ini dilakukan untuk mengetahui pertambahan berat badan, serta apakah pertambahan berat badan yang dialami termasuk normal atau tidak. Pertambahan berat badan yang normal akan sangat baik bagi kondisi ibu maupun janin. Sebaliknya, jika pertambahan berat yang dialami tidak normal, akan menimbulkan resiko pada ibu dan janin. Bagi ibu hami yang mengalami pertambahan berat badan yang tidak normal, dokter atau bidan akan memberikan saran yang sebaiknya dilakukan agar ibu hamil memperoleh pertambahan berat badan yang normal.

Pemeriksaan Tinggi Badan

Pemeriksaan tinggi badan juga dilakukan saat pertama kali ibu melakukan pemeriksaan. Mengetahui tinggi badan sangat penting untuk mengetahui ukuran panggul si ibu. Mengetahui ukuran panggul ibu hamil sangat penting untuk mengetahui apakah persalinan dapat dilakukan secara normal atau tidak. Karena jika diketahui bahwa tinggi badan ibu dianggap terlalu pendek, dikhawatirkan memiliki panggul yang sempit dan juga dikhawatirkan proses persalinan tidak dapat dilakukan secara normal, dan hal ini harus dilakukan secara caesar. Dengan diketahuinya hal ini secara dini, maka ibu hamil diaharapkan segera menyiapkan diri baik dari segi materi dan mental untuk menghadapi persalinan dengan caesar.

Pemeriksaan Urin

Pemeriksaan urin dilakukan untuk memastikan kehamilan. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal ibu hamil, ada tidaknya protein dalam urin, dan juga mengetahui kadar gula dalam darah. Adanya protein dalam urin mengarah pada pre-eklampsia. Sedangkan kadar gula darah dapat menunjukkan apakah ibu hamil mengalami diabetes melitus atau tidak.

Pemeriksaa Detak Jantung

Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui apakah janin dalam berada dalam kondisi sehat dan baik. Permeriksaan detak jantung ini biasanya menggunakan Teknik Doopler sehingga ibu hamil dapat mendengarkan detak janin yang dikandungnya.

Pemeriksaan Dalam

Dilakukan untuk mengtahui ada tidaknya kehamilan, memeriksa apakah terdapat tumor, memeriksa kondisi abnormal di dalam rongga panggul, mendiagnosis adanya bisul atau erosi pada mulut rahim, melakukan pengambilan lendir mulut rahim (papsmear), mengetahui ada tidaknya penyakit kehamilan, mengetahui letak janin, dan untuk mengetahui ukuran rongga panggul sebagai jalan lahir bayi. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan di awal kehamilan.

Pemeriksaan Perut

Dilakukan untuk melihat posisi atas rahim, mengukur pertumbuhan janin, dan mengetahui posisi janin. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara rutin setiap kali dilakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan atau bidan.

Pemeriksaan Kaki

Dilakukan untuk mengetahui adanya pembengkakan (oedema) dan kemungkinan varises. Pembengkakan yang terjadi di minggu-minggu akhir kehamilan adalah normal, namun pembengkakan yang berlebihan menandakan pre-eklampsia,

Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan darah bertujuan untuk mengetahui kesehatan umum ibu hamil. Pemeriksaan darah juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan AFP (alpha fetoprotein). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan gangguan saluran saraf tulang belakang dan untuk mendeteksi otak janin. Kadar AFP yang rendah menunjukkan adanya kemungkinan down sindorm pada janin. Biasanya pemeriksaan AFP dilakukan pada usia kehamilan sekitar 15-20 minggu.

Uji TORCH (Toksoplasma Rubella Cytomegalovirus Herpesimpleks)

Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi parasit seperti TORCH di dalam tubuh ibu hamil. Infeksi TORCH biasanya menyebabkan bayi terlahir dengan kondisi cacat atau mengalami kematian. Pemeriksaan TORCH dilakukan dengan menganalisis kadar imunogloblin G (IgG) dan imunoglobin M (IgM) dalam serum darah ibu hamil. Kedua zat ini termasuk ke dalam sistem kekebalan tubuh. Jika ada zat asing atau kuman yang menginfeksi tubuh, maka tubuh akan memproduksi IgG dan IgM untuk melindungi tubuh. Banyak sedikitnya IgG dan IgM dalam serum darah mengindikasikan ada tidaknya infeksi serta besar kecilnya infeksi. Jika hasil IgG negatif, berarti infeksi terjadi pada masa lalu dan kini sudah tidak aktif lagi. Jika hasil IgM positif, berarti infeksi masih berlangsung aktif dan ibu hamil memerlukan pengobatan agar janin dalam kandungan yang terinfeksi dapat segera ditangani sehingga infeksi tidak semakin buruk.

kb implan

Filed under: Uncategorized — dewitree @ 6:44 am

Pengertian

Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang matang dengan sel sperma (Manuaba, 2000)Alat kontrasepsi bawah kulit adalah alat kontrasepsi pembentuk kapsul silatik berisi hormon progesteron (progesteron sintetik) yang ditanamkan dibawah kulit (Manuaba, 2000)

  • Susuk: Disebut alat kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit pada lengan atas, alat kontrasepsi ini disusupkan di bawah kulit lengan atas sebelah dalam.
    Bentuknya semacam tabung-tabung kecil atau pembungkus plastik berongga dan ukurannya sebesar batang korek api.

  • Susuk dipasang seperti kipas dengan enam buah kapsul atau tergantung jenis susuk yang akan dipakai. Di dalamnya berisi zat aktif berupa hormon. Susuk tersebut akan mengeluarkan hormon sedikit demi sedikit. Jadi, konsep kerjanya menghalangi terjadinya ovulasi dan menghalangi migrasi sperma. Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5 tahun, 3 tahun, dan ada juga yang diganti setiap tahun. Pencabutan bisa dilakukan sebelum waktunya jika memang ingin hamil lagi.

  • Berbentuk kapsul silastik (lentur), panjangnya sedikit lebih pendek daripada batang korek api. Jika Implant dicabut kesuburan bisa pulih dan kehamilan bisa terjadi? Cara pencabutan Implan hampir sama dengan pemasangannya yaitu dengan penyayatan kecil dan dilakukan oleh petugas kesehatan yang terlatih.

  • Sebelum pemasangan Implan sebaiknya kesehatan Ibu diperiksa terlebih dahulu,dengan tujuan untuk mengetahui apakah Ibu bisa memakai Implan atau tidak.

MACAM – MACAM IMPLANT
Macam – macam implant ada 3 :

  1. Non Biodegrable Implan
    a. Implant 6 kapsul, berisi hormon levonargestrel daya kerja 5 tahun
    b. Norplant 2 kapsul, berisi hormon levonagestel daya kerja 3 tahun
    c. Norplant 1 kapsul, berisi hormon ST – 1435, daya kerja 2 tahun
    d. Norplant 1 kapsul 1 batang berisi hormon 3 ketodesogastrel, daya kerja 2,5 – 4 tahun
    Saat ini diuji coba di Indonesia, implant 1 kapsul dengan panjang 4 cm, diamater luar 2 mm, terdiri dari suatu intraeva (ethylinevinil acetate) berisi 60 mg 3 ketodesogestrel yang dikelilingi suatu membran eva berdaya kerja 2 – 3 tahun

2. Biodegradable
Y
ang sedang diuji saat ini :
a. Copronor PP
Suatu kapsul polymer berisi hormon levronorgastel dengan daya kerja 18 bulan

3. Yang Paling Sering Dipakai
a. Norplant
1) Dipakai sejak tahun 1987
2) Terdiri dari 6 kapsul silastik (karet silicone) yang berisi dengan hormon levonorgestrel dan uung – ujung kapsul ditutup dengan silastik adhesive
3) Sangat efektif untuk mencegah kehamilan 5 tahun
4) Saat ini norplan yang paling banyak dipakai


b. Implanon
1) Dipakai sejak tahun 1987
2) Terdiri dari 2 batang silatik yang padat panjang tiap batang 40 mm, diameter 2,4 mm
3) Masing – masing batang diisi dengan 68 mg 3 ketodesogastrel di 2 matriks batang
4) Sangat efektif untuk mencegah kehamilan selama 3 tahun

c.Jadena dan indoplant

Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg levonorgastrel dengan lama kerja 3 tahun

Keuntungan

  • Tahan sampai 5 tahun atau sampai diambil. Kesuburan akan kembali segera setelah pengangkatan. Pencegahan kehamilan terjadi dalam waktu 24 jam setelah pemasangan.
  • Melindungi wanita dari kanker rahim.

  • Aman digunakan setelah melahirkan dan menyusui.

  • Tidak mengganggu aktivitas seksual.
  • Perlindungan jangka panjang (3 tahun untuk Jadena)

  • Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
  • Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
  • Bebas dari pengaruh estrogen
  • Tidak menggangu kegiatan senggama
  • Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan

  • Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan
  • Mengurangi nyeri haid
  • Mengurangi jumlah darah haid
  • Mengurangi/memperbaiki anemia
  • Melindungi terjadinya kanker endometrium
  • Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara

  • Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul

  • Menurunkan angka kejadian endometriosis

Keterbatasan

Timbulnya keluhan-keluhan seperti :

  • Nyeri kepala

  • Peningkatan/penurunan berat badan

  • Nyeri payudara

  • Mual-mual

  • Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan
  • Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan

  • Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS

  • Klien tidak menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan

  • Efektifitasnya menurun bila menggunakan obat-obat tuberkulosis atau obat epilepsi

  • Terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 wanita pertahun)

Yang Boleh Menggunakan Implan

  • Wanita dalam usia reproduksi
  • Telah atau belum memiliki anak
  • Menginginkan kontrasepsi jangka panjang (3 tahun untuk Jadena)

  • Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
  • Pascapersalinan dan tidak menyusui
  • Pascakeguguran
  • Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak kontrasepsi mantap

  • Riwayat kehamilan ektopik
  • Tekanan darah <180/110 mmHg, dengan masalah pembekuan darah, atau amenia bulan sabit (sickle cell)
  • Tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen

  • Sering lupa menggunakan pil

Yang Tidak Boleh Menggunakan Implan

  • Hamil atau diduga hamil
  • Perdarahan pervaginan yang belum diketahui penyebabnya

  • Benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker payudara

  • Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi

  • Miom uterus dan kanker payudara
  • Ganguan toleransi glukosa

PERENCANAAN


1. Lakukan pendekatan pad pasien dengan komunikasi terapeutik
Rasional : Dengan mengadakan pendekatan terapeutik, ibu dapat lebih kooperatif dengan petugas kesehatan
2. Lakukan pemeriksaan kondisi fisik klien
Rasional : Dengan pemeriksaan kondisi fisik secara menyeluruh akan mempermudah petugas kesehatan untuk mengambil keputusan apakah kondisi fisik klien cocok dan sesuai dengan metode KB yang di inginkan Klien
3. Berikan informasi tentang hasil pemeriksaan
Rasional : Dengan menjelaskan kepada klien. Klien dapat mengerti tentang kondisinya
4. Berikan HE tentang indikasi dan efek samping penggunaan KB implant
Rasional : Dengan memberikan HE dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman klien
5. Berikan HE tentang keuntungan dan kerugian pemakaian implant
Rasional : Dengan memberikan HE dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman klien 6.Berikan ibu lembar persetujuan tindakan medis (informed cosent)
Rasional : Dengan memberikan informed consent pada klien akan membentuk rasa kepercayaan antara klien dan petugas (tanggung jawab dan tanggung gugat)
7. Lakukan pemasangan KB sinomplant pada klien
Rasional : Dengan melakukan pemasangan KB implanon yang sesuai dengan standart dan prosedur yang berlaku akan meningkatkan keamanan dan kenyamanan pada klien
8. Berikan HE tentang cara perawatan pasca pemasangan implanon yang dilakukan secara mandiri pada klien
Rasional : Dengan HE akan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pada klien

PERALATAN DAN INSTRUMEN

  • Meja periksa untuk berbaling klien
  • Alat penyangga lengan (tambahan)
  • Batang implan dalam kantong
  • kain penutup steril(disinfeksi tingkat tinggi)m serta mangkok untuk tempat meletakkan implan Norplant.

  • Pepasang sarung tangan karet bebas bedak dan yang sudah steril (atau didisinfeksi tingkat tinggi)

  • Sabun untuk mencuci tangan
  • Larutan anti septik untuk disinfeksi kulit(mis,betadin atau sejenis gol povidon iodin lainnya),lengkap dengan cawan/mangkok anti karat.
  • Zat anastesi lokal (konsentrasi 1% tanpa epinefrin)

  • Semprit(5-10ml),dan jarum suntik (22G)ukuran 2,5 sampai 4 cm (1-1 1/2inch)

  • Trokar 10 dan madrin
  • Skalpel 11 atau 15
  • Kassa pembalut,band aid,atau plester
  • Kassa steril dan pembalut
  • Epinefrin untuk renjatan anafilaktik(harus tersedia untuk kaperluan darurat)

  • Klem penjepit atau forsep mosquito (tambahan)
  • Bak/tempat instrumen (tertutup)

PERSIAPAN PEMASANGAN :

Langkah 1

Persilahkan klien mencuci seluruh lengan dengan sabun dan air yang mengalir, serta membilasnya. Pastikan tidak terdapat sisa sabun. Langkah ini sanagt penting bila klien kurang menjaga kebersihan dirinya untuk menjaga kesehatannya dan mencegah penularan penyakit.

Langkah 2

Tutup tempat tidur klien dengan kain bersih.

Langkah 3

Persilahkan klien berbaring dengan lengan yang lebih jarang digunakan diletakkan pada lengan penyangga atau meja semping. Lengan harus disangga dengan baik dan dapat digerakkan lurus atau sedikit bengkok sesuai dengan posisi yang disukai untuk memudahkan pemasangan.

Langkah 4

Tentukan tempat pemasangan yang optimal, 8 cm diatas lipatan siku.

Langkah 5

Buka dengan hati-hati kemasan steril implant dengan menarik kedua lapisan pembungkusnya dan jatuhkan seluruh kapsul dalam mangkok steril. Bila tidak ada mangkok steril, kapsul dapat diletakkan dalam mangkok yang didisinfeksi tingkat tinggi (DTT). Pilihan lain adalah dengan membuka sebagian kemasan dan mengabil kapsul satu demi satu dengan klem steril atau DTT saat melakukan pemasangan. Jangan menyentuih bagian dalam kemasan atau isinya kecuali dengan alat yang steril atau DTT

.TINDAKAN SEBELUM PEMASANAGAN

Langkah 1

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir keringkan dengan kain bersih.

Langkah 2

Pakai sarung tangan steril atau DTT.

Langkah 3

Atur alat dan bahan-bahan sehingga mudah dicapai. Hitung kapsul untuk memastikan jumlahnya.

Langkah 4

Persiapkan tempat insisisi dengan larutan antiseptic. Gunakan klem steril atau DTT untuk memegang kasa berantiseptik. (bila memegang kasa berantiseptik hnaya dengan tangan, hati-hati jangan sampai mengkontaminasi sarung tangan dengan menyentuh kulit yang tidak steril). Mulai mengusap dari tempat yang akan dilakukan insisis kearah luar dengan gerakkan melingkar sekitar 8-13 cm dan biarkan kering (sekitar 2 menit) sebelum memulai tindakan. Hapus antiseptic yang berlabihan hanya bila tanda yang sudah dibuat tidak terlihat.

Langkah 5

Bila ada gunakan kain penutup yang mempunyai lubang untuk menutupi lengan. Lubang tersebut harus cukup lebar untuk memaparkan tempat yang akan dipasang kapsul. Dapat juga dengan menutupi lengan dibawah tempat pemasangan dengan kain steril.

Langkah 6

Setelah memastikan tidak alergi terhadap obat anestesi, isi alat suntik dengan 3 ml obat anestesi (1 % tanpa epinefrin). Dosis ini sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakit selama memasang kapsul implant.

Langkah 7

Masukkan jarum tepat dibawah kulit pada tempat insisi kemudian lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk kedalam pembuluh darah. Suntikkan sedikit obat anestesi untu membuat gelembung kecil dibawah kulit. Kemudian tanpa memindahkan jarum, masukkan kebawah kulit sekitar 4 cm. hal ini akan membuat kulit (dermis) terangkat dari jaringan lunak dibawahnya. Kemudian tarik jarum pelan-pelan sehingga membentuk jalur sambil menyuntikkan obat anestesi sebanyak 1 ml diantara tempat untuk memasang kapsul.

PEMASANGAN KAPSUL

Sebelum membuat insisi, sentuh tempat insisi dengan jarum untuk memastikan obat anestesi telh bekerja.

Langkah 1

Pegang scalpel dengan sudut 45° buat insisi dangkal hanya untuk sekedar menembus kulit.

Langkah 2

Ingat kegunaan kedua tanda pada trokar. Trokar harus dipegang dengan ujung yang tajam saat menghadap keatas. Ada 2 tanda pada trokar, tanda (1) dekat pangkal menunjukkan batas trokar dimasukkan kebawah kulit sebelum memasukkan setiap kapsul. Tanda (2) dekat ujung menunjukkan batas trokar yang harus tetap dibawah kulit setelah memasang setiap kapsul.

Langkah 3

Dengan ujung yang tajam menghadap keatas dan pendorong didalamnya masukkan ujung trokar melalui luka insisi dengan sudut kecil. Mulai dari kiri atau kanan pada pola seperti kipas, gerakkan trokar kedepan dan berhenti saat ujung tajam seluruhnya berada dibawah kulit (2-3 ml dari akhir ujung tajam) memasukkan trokar jangan dengan paksaan. Jika terdapat tahanan, coba dari sudut lainnya.

Langkah 4

Untuk meletakkan kapsul tepat dibawah kulit angat trokar keatas, sehingga kulit terangkat. Masukkan trokar perlahan-lahan dan hati-hati kearah tanda (1) dekat pangkal. Trokar harus cukup dangkal sehingga dapat diraba dari luar dengan jari. Trokar harus selalu terlihat mengangkat kulit selama pemasangan. Masuknya trokar akan lancer bila berada dibidang yang tepat dibawah kulit.

Langkah 5

Saat trokar masuk sampai tanda (1), cabut pendorong dari trokar.

Langkah 6

Masukkan kapsul pertama kedalam trokar. Gunakan ibu jari dan telunjuk atau pinset atau klem untuk mengambil kapsul dan memasukkan kedalam trokar. Bila kapsul diambil dengan tangan, pastikan sarung tangan tersebut bebas dari bedak atau partikel lain. Dorong kapsul sampai seluruhnya masuk kedalam trokar dan masukkan kembali pendorong.

Langkah 7

Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul kearah trokar sampai terasa ada tahanan tapi jangan mendorong dengan paksa (akan terasa tahanan pada saat sekitar setengah bagian pendorong masuk kedalam trokar).

Langkah 8

Pegang pendorong dengan erat ditempatnya dengan satu tangan untuk menstbilkan. Tarik tabung trokar dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk kearah luka insisi sampai tanda (2) muncul ditepi luka insisi dan pangkalnya menyentuh pegangan pendorong. Hal yang penting pada langkag ini adalah menjaga pendorong tetap ditempatnya dan tidak mendorong kapsul kejaringan.

L;angkah 9

Saat pangkal trokar menyentuh pendorong, tanda (2) harus ditepi luka insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada dibawah kulit. Raba ujung kapsul untuk memastikan kapsul sudah keluar seluruhnya dari trokar.

Langkah 10

Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar kearah lateral kanan dan kemba;ikan lagi keposisi semula untuk memastikan kapsul pertama bebas. Selanjutnya, geser trokar sekitar 15-25°. Untuk melakukan itu, mula-mula fiksasi kapsul pertama dengan jari telunjuk dan masukkan kembali trokar pelan-pelan sepanjang sisi jari telunjuk tersebut sampai tanda (1). Hal ini akan memastikan jarak yang tepat antara kapsul dan mencegah trokar menusuk kapsul yang dipasang sebelumnya. Bila tanda (1) sudah tercapai, masukkan kapsul berikutnya kedalam trokar dan lakukan seperti sebelumnya sampai seluruh kapsul terpasang.

Langkah 11

Pada pemasangan kapsul berikutnya, untuk mengurangi resiko infeksi atau ekspulsi, pastikan bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5 ml dari tepi luka insisi.

Langkah 12

Sebelum mencabut trokar raba kapsul semuanya telah dipasang.

Langkah 13

Ujung dari semua kapsul harus tidak ada pada tepi luka insisi (sekitar 5 mm). bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi harus dicabut dengan hati-hati dan dipasang kembali ditempat yang tepat.

Langkah 14

Setelah kapsul terpasang semuanya dan posisi setiap kapsul sudah diperiksa, keluarkan trokar pelan-pelan tekan tempat insisi dengan jari menggunakan kasa selama satu menit untuk menghentikan perdarahan. Bersihkan tempat pemasangan dengan kasa berantiseptik.

PEMASANGAN IMPLANT IMPLANON

Inserter yang digunakan telah berisi satu buah kapsul didalamnya dan hanya untuk satu kali pakai. Kemasan inserter tersebut menyerupai alat suntik.

Langkah 1

Persiapkan tempat pemasangan dengan laruitan antiseptic

Langkah 2

Tentukan tempat pemasangan yang optimal, 8 cm diatas lipatan siku pada bagian dalam lengan dialur antara otot biseps dan triseps. Gunakan spidol untuk menandai dengan membuat garis sepanjang 6-8 cm.

Langkah 3

Setelah memastikan (dari anamnesis) tidak alergi terhadap obat anestesi, isi alat suntik dengan 2 ml obat anestesi (1% tanpa epinefrin) dan disuntikkan tepat dibawah kulit sepanjang jalur tempat pemasangan. Pemberian anestesi juga dapat dilakukan dengan semprotan,

Langkah 4

Keluarkan inserter dari kemasannnya. Regangkan kulit di tempat pemasangan dan masukkan jarum inserter tepat dibawah kulit sampai masuk seluruh panjang jarum inserter. Untuk meletakkan kapsul tepat dibawah kulit, angkat jaru inserter keatas, sehingga kulit terangkat.

Langkah 5

Lepaskan segel inserter dengan menekan penopang pendorong inserternya.

Langkah 6

Putar pendorong inserter 90° dengan mempertahankan pendorong inserter tetap diatas lengan.

Langkah 7

Dengan tangan yang lain secara perlahan tarik jarum keluar dari lengan sambil tetap mempertahankan penopang inserter ditempatnya.

PENCABUTAN IMPLANT

METODE PENCABUTAN :

Metode pencabutan untuk implant Norplant, Jadena. Indoplant, maupun Implanon sama hanya berbeda dalam jumlah kapsul yang terpasang.

Metode standart pencabutan menggunakan klem mosquito untuk menjepit kapsul telah digunakan sejak awal 1980an. Sejak itu telah banyak dilaporkan modifikasi dari metode standart pencabutan, misalny metode “ pop out “ yang diperkenalkan oleh Darney dkk. Pada tahun 1992. Kenyataan bahwa banyak yang memikirkan untuk terus menyempurnakan metode pencabutan, sedang perubahan pada metode pemasangan sangat sedikit, menunjukkan dengan jelas metode standart pencabutan tidak selurunya sempurna. Pengamatan ini didukung ole pengalaman dari berbagai Negara. Dibandingakn dengan pemasangan, pencabutan lebih memerlukan kesabaran dan keahlian. Selain itu pemasangan yang tidak baik (misalnya terlalu dalam atau tidak menggunakan pola) menyebabkan pencabutan dengan metode apapun akan memakan waktu yang lama dan lebih banyak perdarahan dibandingkan pada waktu pemasangan.

PERSIAPAN BAHAN DAN PERALATAN

Peralatan yang diperlukan untuk setiap pencabutan adalah sebagai berikut :

  • Meja periksa untuk tempat tidur klien
  • Penyangga lengan atau meja samping
  • Sabun untuk mencuci tangan
  • Kain penutup operasi steril yang kering
  • 3 mangkok steril/DTT (satu untuk larutan antiseptic, satu tempat air mendidih/steril yang berisi kapas bulat untuk membersihkan bedak pada sarung tangan dan satu lagi berisi larutan klorin 0,5 % untuk DTT)
  • Sepasang sarung tangan steril
  • Larutan antiseptic
  • Anestesi local
  • Tabung suntik (5 atau 10 ml) dan jarum suntik dengan panjang 2,5-4 cm
  • Scalpel
  • Klem lengkung dan lurus
  • Band aid
  • Kasa pembalut
  • Epinefrin untuk syok anafilaktik.

PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN

Langkah 1

Persilahkan klien mencuci seluruh lengan dan tangan dgn sabun dan air yg mengalir. Pastikan tidak ada sisa sabun.

Langkah 2

Tutup tempat tidur klien dgn kain bersih yang kering.

Langkah 3

Persilahkan klien berbaring dgn lengan yg lebih jarang di gunakan di letakan pada lengan penyangga / meja samping.

Langkah 4

Raba keenam kapsul untuk menentukan lokasinya. Untuk menentukan tempat insisi, raba ujung kapsul dekat lipatan siku.

Langkah 5

Pastikan posisi dari setiap kapsul dengan membuat tanda pada kedua ujung setiap kapsul dgn menggunakn spidol.

Langkah 6

Siapkan tempat alat-alat dan buka bungkus steril tanpa menyentuh alat-alat di dalamnya.

TINDAKAN SEBELUM PENCABUTAN

Langkah 1

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dgn air bersih.

Langkah 2

Pakai sarung tangan steril/DTT.

Langkah 3

Atur alat dan bahan sehingga mudah dicapai.

Langkah 4

Usap tempat pencabutan dengan kasa berantiseptik. Gunakan klem steril/DTT untuk memegang kasa tersebut. Mulai mengusap dari tempat yg akan dilakukan insisi kearah luar dengan gerakan melingkar dan biarkan mengering sebelum melakukan tindakan.

Langkah 5

Bila ada gunakan kain lubang untuk menutupi lengan. Lubang harus cukup lebar untuk memaparkan lokasi kapsul.

Langkah 6

Sekali lagi raba seluruh kapsuluntuk menentukan lokasi

Langkah 7

Setelah memastikan klien tidak alergi terhadap obat anastesi, si alat suntik dgn 3 ml obat anastesi. Masukan jarum tepat di bawah kulit pada tempat insisi yang akan di buat, kemudian lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk kedalam pembuluh darah. Suntikan sedikit obat anastesi untuk membuat gelembung kecil dibawah kulit. Masukan jarum secara hati-hati dibawah ujung kapsul pertama tarik jarum pelan-pelan sambil menyuntikan obat anastesi. Geser ujung jarum dan masukan kebawah kapsul berikutnya. Ulangi proses sampai seluruh ujung keenam kapsul terangkat. Jangan menyuntikan obat anastesi diatas kapsul karena akan membuat jaringan menjadi odema sehingga kapsul sulit diraba.

TINDAKAN PENCABUTAN KAPSUL

Langkah 1

Tentukan lokasi insisi yang mempunyai jarak sama dari ujung bawah semua kapsul, kira-kira 5mm dari ujung bawah kapsul. Bila jarak tersebut sama maka insisi waktu pemasangan. Sebelum menentukan lokasi, pastikan tidak ada ujung kapsul yang berada dibawah insisi lama.

Langkah 2

Pada lokasi yang sudah dipilih, buat insisi melintang yang kecil lebih kurang 4mm dengan menggunakan skalpel.

Langkah 3

Mulai dengan mencabut kapsul yang mudah diraba dari luar/ yang terdekat tempat insisi.

Langkah 4

Dorong ujung kapsul kearah insisi dengan jari tangan sampai ujung kapsul tampak pada luka insisi, saat ujung kapsul tampak, masukkan klem lengkung dengan lengkungan jepitan mengarah keatas , kemudian jepit ujung kapsul dengan klem tersebut.

Catatan : bila kapsul sulit digerakkan ke arah insisi, hal ini mungkin karena jaringan yang mengelilingi kapsul.

Langkah 4A

Masukan klem lengkung melalui luka insisi dengan lengkungan jepitan mengarah ke kulit, teruskan di sampai berada dibawah ujung kapsul dakat siku. Buka dan tutup jepitan klem untuk memotong secara tumpul jaringan parut yang mengelilingi ujung kapsul ulangi sampai ujung keenam kapsul seluruhnya bebas dari jaringan parut yang mengelilinginya.

Langkah 4B

Dorong ujung kapsul pertama sedekat mungkin pada luka insisi. Sambil menekan kapsul dengan jari telunjuk dan jari tengah, masukan lagi klem lengkung , sampai berada dibawah ujung kapsul, jepit kapsul didekat ujungnya dan secara hati-hati tarik keluar.

Langkah 5

Bersihkan dan buka jaringan ikat yang mengelilingi kapsul dengan cara menggosok-gosok pakai kasa steril untuk memaparkan ujung bawah kapsul.

Cara lain, bila jaringan ikat tidak bisa dibuka dengan cara menggosok-gosok pakai kasa steril, dapat dengan menggunakan skalpel secara hati-hati. Untuk m,encegah terpotongnya kapsul, gunakan sisi yang tidak tajam dari skalpel waktu membersihkan jaringan ikat yang mengelilingi kapsul.

Langkah 6

Jepit kapsul yang sudah terpapar dengan menggunakan klem kedua. Lepaskan klem pertama dan cabut kapsul secara pelan dan hati-hati dengan klem kedua. Kapsul akan mudah dicabut oleh karena jaringan ikat yang mengelilinginya tidak melekat pada karet silicon. Bila kapsul sulit dicabut, pisahkan secara hati-hati sisa jaringan ikat yang melekat pada kapsul dengan menggunakan kasa atau skapel.

Langkah 7

Pilih kapsul berikutnya yg tampak paling mudah di cabut. Gunakan teknik yang sama. Sebelum mengakhiri tindakan, hitung untuk memastikan keenam kapsul sudah dicabut.

Hello world!

Filed under: Uncategorized — dewitree @ 6:33 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog at WordPress.com.